![]() | ||||
Pict dari Kompas |
Kau menatapku tanpa kedipan, aku tanya untuk apa kau disini?
Namun jawabmu mata tanpa kedipan, hey hey! Apa yang kau lakukan disini?
Matamu kini menyendu dan lehermu menurun beberapa derajat hendak menunduk
Dan tetap tatapanmu mengawasiku, satu…dua…tiga… aku kini berdiri di depanmu
Mengekor lompatan kiri..kanan..kiri..kanan lalu kau ikuti bayanganku
Panggil Ibu.. kau ucapkan kalimat pertama dan terakhirmu
“Mah.. liat tulisanku bagus gak? Aku mau masukin ke Majalah Mamah dong….” Rai datang dengan merengek dipegangnya selembar kertas lalu manja gadis itu bergelanjutan dipangkuan Ibunya yang tengah duduk serius di depan laptop yang sesekali membenarkan posisi kacamata minusnya.
Sastri menengok sekilas tulisan buah hatinya “Rai kan Mamah udah bilang tulisan kamu agak panjangan dikit cantik…”
“Ah Mamah ini aku minta tulisan dimuat bilangnya panjangan dikit panjangan dikit terus! Aku tanya arti mimpi itu gak dijawab!” Mendelik Rai berlari dari hadapan Ibunya dengan hentakan kaki khas anak-anak yang tengah marah tetapi dianggap wajar oleh Sastri apalagi Rai anak perempuan satu-satunya paling dimanja paling disayang kata Raka Abangnya setiap kali memperhatikan Rai yang mendapatkan perlakukan hebat dari Ibunya.
“Ah Rai marah deh tuh anak!”
“Gak apa-apa kaya kamu gak kaya gitu aja dulu”
“Rai itu mimpi apaan sih Mah? 15 tahun udah nulis kaya gini Raka juga belum tentu bisa”
“Iyalah kamu calon dokter… dia hobinya apa.. beda”
“Kaya Papah sama Mamah ya Hehee.. eh Mah nanti kita nyekar ke Papah yuk, Raka kan bentar lagi Koas mau minta doanya gituuuu…”
“InsyaAllah sayang… coba liat tulisannya!”
Tiap kata per kata Sastri coba resapi maknanya, tulisan Rai yang kini dia pegang berbeda dari tulisan-tulisan seperti biasanya yang polos khas anak yang hendak menginjak remaja, tulisan ini kolerasi antara hati dan fikiran tanpa khayalan fiktif yang mungkin hanya Rai yang tahu arti dari setiap kata dia yang pilih namun tidak! Sastri yang berpuluh-puluh tahun bergelut dengan dunia sastra dapat membaca alur ceritanya ditambah yang menulis adalah putrinya Rai yang sedari kecil berada dipangkuannya melewati linangan air mata yang tak pernah surut sepeninggal Janu suami tercintanya.
“Coba Ka panggil Rai kesini bilang tulisannya mau dimuat”
****
Rambutnya yang diikat ekor kuda sudah tak beraturan terlihat jelas tetesan air mata yang masih mendominasi lingkaran mata dan pipinya sementara Raka yang berjalan disampingnya mencoba untuk menghapus basahan-basahan itu dengan tangannya sendiri di sertai bujukan hingga omelan-omelan kecil agar adiknya berhenti menangis khas seorang Kakak yang usianya terpatut sangat jauh.
“Rai kenapa? Sakit hati gara-gara Mamah iya sayang?” Tanya Sastri memulai percakapan saat Rai sudah berada dihadapannya namun yang ditanya berbalik memeluk perut Raka yang sedikit membuncit lalu rapat menyembunyikan wajahnya.
“Eeeeh kok malah Kaka yang dipeluk? Sini peluk Mamah dong! Rai mau tulisannya dimuat iya sayang?” Rai menganggukan kepalanya tanpa melihat Sastri.
“Kalo gitu coba ceritain mimpi Rai itu sekali lagi ke Mamah sama Kaka besok Mamah kasih jawabannya”
Dengan wajah yang layu dan dada yang masih turun naik menyisakan sisa-sisa tangisnya Rai becerita tentang mimpinya yang di dengarkan dengan seksama oleh Mamah dan Kakaknya “ Jadi di mimpi itu Rai ketemu cewek Mah rambutnya diiket satu dia liatin Rai terus tapi tiap ditanya gak jawab pokoknya dia cuma bilang ibu..ibu…ibu!”
“Udah segitu Rai?”
“Iya Mah cuma segitu tapi 4hari ini Rai mimpiin terus….”
****
“Kamu rela memberikan dia kepada saya?”
“Ikhlas saya ikhlas… karena dia memang anak suami Mbak...”
“Ah tidak! Lebih baik kalian menikah saya ikhlas menerima kamu dalam kehidupan saya, kamu mau ya??”
“Saya tidak ingin merusak kebahagiaan kalian, ini hanya proses bayi tabung kami tidak melakukan hubungan apapun jadi saya tidak mau Mbak!”
“Maafkan saya… tapi dalam agama hal ini termasuk perbuatan zina dan saya tidak mau anak ini menderita, lebih baik kalian jadi orangtua yang sebenarnya untuk dia…”
“Saya mohon Mbak jangan berkata seperti itu sakitnya penyakit saya ini tidak terasa apapun dibandingkan dengan perkataan Mbak barusan dia bukan anak haram Mbak, jadi saya mohon terima dia… dr Janu suami Mbak telah menolong hidup saya dan ini sebagai tanda terima kasih saya untuk beliau dengan melengkapi kebahagiaan kalian memiliki putri”
“Terima kasih Dik… apa yang harus saya lakukan untuk membalas kebaikan kamu….”
“Hanya satu hal yang saya minta ketika putri ini menginjak usia 15 tahun bawa dia untuk menemui saya.. ke pemakaman saya….”
“Tolong kalian harus menikah… suami saya akan bertanggung jawab kuatkan dirimu yaaa penghulu telah datang…”
“Ibu Rai minta untuk dikebumikan di desa tempat kelahirannya yang sangat jauh dari kota di pesisian hutan yang pada saat itu Mamah pun tidak tahu nama tempatnya apa, hari itu sudah malam dan diperjalanan pulang hanya mobil kami yang ada, hitam gelap pohon-pohon tinggi serta jalan yang terjal membuat Papah kamu kesulitan belum tangisan Rai, bayi baru lahir itu harus dibawa menyaksikan pemakaman ibunya yang tak henti menangis yaaaa disana kami hanya berfikir bagaimana cara cepat mendapatkan susu untuk Rai hingga dengan kecepatan yang tinggi Papahmu melajukan mobil namun tidak tahu situasi jalanan… hhhmmmpuuuh seperti cerita yang kamu sering dengar terjadilah kecelakaan itu dan pada saat itu juga Rai yang malang harus kehilangan keduaorang tua kandungnya…”
“Sekarang kamu mengerti mengapa Mamah sangat memanjakan Rai dan mengapa pemakaman Papah sangat jauh…?”
“Iya.. Papahmu dimakamkan tepat disamping Ibu Rai Nak…”
Kisah masa silam 15 tahun yang lalu kini kembali dibuka, dengan cucuran air mata Sastri menceritakan masa-masa terberat dalam hidupnya Raka yang saat duduk di sekolah dasar telah tinggal di luar negri untuk menuntut ilmu baru mengetahui seluk beluk kehidupan orangtuanya terutama Ibunya yang membesarkan dirinya dan adik tirinya seorang diri. Sastri wanita pemilik hati yang lapang, tegar dan penuh kasih sayang.
****
Nyanyian burung merdu mengiringi kedatangan mereka lalu sambutan dari sang mentari yang bersinar cerah namun penuh keteduhan semakin membuat suasana pagi ini teramat indah. Rai dan Raka mendahului Sastri keluar dari mobil disertai celotehan gembira dengan tangan masing-masing menggenggam buket bunga. Kedua anak itu merindukan orangtuanya… dan Mas aku telah membuat mereka seperti apa yang kamu inginkan… never stop loving you… Batin Sastri berjalan semakin dekat kearah orang-orang yang dicintainya.
-SELESAI-
Eno Sanding,
7 Januari 2012

kisah yang rumit dan dramatis
BalasHapusini hanya fiksi semata ya? atau...?
Fiksi bayi tabung di Indo gak kya diluar :)
Hapuskaya bakat ni buat nulis novel :)
BalasHapusceritanya menarik?kisah nyata ya?
BalasHapusmenarik cerita na..
BalasHapuslike it.. :)